AirTrunk Investasi Rp489 Triliun, Bangun Pusat Data AI 5GW di India
Jakarta - Operator pusat data raksasa yang disokong oleh Blackstone, AirTrunk, resmi mengumumkan komitmen investasi besar-besaran senilai US$30 miliar (sekitar Rp489 triliun) di India hingga tahun 2030. Langkah strategis ini bertujuan untuk membangun infrastruktur pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI) dengan kapasitas masif mencapai 5 gigawatt (GW).
Investasi ini menjadi salah satu komitmen terbesar di sektor infrastruktur digital India. Langkah ini sekaligus memperkuat posisi India sebagai salah satu magnet utama bagi pengembangan infrastruktur AI global, di tengah tingginya kebutuhan kapasitas komputasi dari berbagai perusahaan teknologi dunia.
Ekspansi Agresif di Pasar Asia Selatan
AirTrunk sebenarnya baru memasuki pasar India pada awal tahun ini melalui akuisisi Lumina CloudInfra. Namun, perusahaan asal Australia ini langsung menancapkan kuku bisnisnya secara agresif.
Sebagai bagian dari proyek raksasa ini, AirTrunk melaporkan telah menandatangani surat niat untuk alokasi lahan di Raigad Pen Growth Center, Maharashtra. Di lokasi tersebut, AirTrunk berencana membangun data berkapasitas 3GW dengan nilai investasi mencapai ₹2 triliun (sekitar US$21 miliar atau Rp342 triliun).
Selain proyek raksasa di Maharashtra, AirTrunk juga sudah memiliki jalur pengembangan ( pipa ) sekitar 600 megawatt (MW) yang tersebar di beberapa kota besar seperti Mumbai, Chennai, dan Hyderabad.
CEO AirTrunk, Robin Khuda, mengungkapkan bahwa keputusan investasi ini didorong oleh dukungan kuat dari pemerintah setempat, ketersediaan tenaga kerja teknis yang melimpah, serta akses yang baik ke energi terbarukan.
Dukungan Pemerintah dan Potensi Pertumbuhan Kapasitas
Pertemuan antara Robin Khuda dan Perdana Menteri India, Narendra Modi, menegaskan pentingnya kolaborasi ini. PM Modi menyebutkan bahwa investasi ini akan memperkokoh posisi India sebagai pusat global untuk komputasi awan dan AI.
Sektor pusat data di India memang tengah diproyeksikan mengalami pemutaran yang tajam. Menurut data dari firma riset Bernstein, kapasitas pusat data di negara tersebut diperkirakan melonjak dari yang saat ini hanya sekitar 1,5GW menjadi 8GW pada tahun 2030.
Pemerintah India juga sangat aktif menarik investor asing. Awal tahun ini, New Delhi mengeluarkan kebijakan insentif berupa pembebasan pajak hingga tahun 2047 bagi penyedia layanan cloud asing yang menjual jasanya ke luar negeri, dengan syarat beban kerja ( beban kerja ) tersebut dijalankan dari pusat data yang berada di India.
Tantangan Pasokan Energi dan Udara
Meski prospeknya sangat menggiurkan, gelombang pusat data ini juga membawa tantangan besar dari sisi menyediakan sumber daya. Pusat data AI dikenal sangat rakus akan mengkonsumsi daya listrik, udara untuk sistem pendingin, serta kebutuhan lahan yang luas.
Firma konsultan Deloitte berpikir bahwa pembangunan pusat data di kawasan Asia Pasifik akan membutuhkan tambahan pasokan listrik hingga puluhan terawatt-hour (TWh) pada akhir dekade ini. Masalah keterbatasan energi yang ini diprediksi bisa menjadi batu sandungan utama jika tidak diantisipasi dengan baik.
Dengan komitmen US$30 miliar ini, AirTrunk resmi bergabung dalam persaingan ketat infrastruktur digital di India, bersanding dengan raksasa global seperti Amazon, Google, Microsoft, serta pemain lokal seperti Reliance Industries dan Adani Group.


Pilih Karakter & Nama