Rupiah Tembus Rp18.000, Investor Asing Mulai Jual Masal Aset Indonesia
Market View - Kepercayaan investor global terhadap pasar keuangan Indonesia dilaporkan mengalami penurunan tajam. Gelombang sentimen negatif bertajuk "Sell Indonesia" mulai meluas di kalangan pelaku pasar modal internasional menyusul ambruknya indeks saham domestik serta pelemahan nilai tukar rupiah ke level terendah barunya sepanjang sejarah.
Berdasarkan laporan terkini dari meja perdagangan global, kekhawatiran utama para investor dipicu oleh arah kebijakan ekonomi Presiden Prabowo Subianto yang dinilai semakin bersifat populis, intervencionis, serta memperkuat kendali langsung negara terhadap sektor ekonomi strategis.
Sejak resmi menjabat, Presiden Prabowo telah mengusung target pertumbuhan ekonomi ambisius sebesar 8 persen. Berbagai langkah besar pun mulai direalisasikan, termasuk peluncuran program makan bergizi gratis berskala nasional, perluasan peran badan usaha milik negara (BUMN), hingga pengalihan dana miliaran dolar ke lembaga pengelola investasi (sovereign wealth fund) Danantara.
Namun, langkah terbaru pemerintah yang mengambil kendali langsung atas ekspor komoditas utama dengan dalih menekan angka kebocoran pajak justru memicu aksi jual massal (sell-off) pada saham-saham emiten eksportir di bursa domestik.
Tekanan Hebat pada Rupiah dan Pasar Obligasi
Mata uang rupiah menjadi indikator paling nyata dari kecemasan pasar global. Nilai tukar rupiah tercatat telah melemah sekitar 14 persen sejak awal masa jabatan Prabowo, menjadikannya salah satu mata uang dengan performa terlemah di Asia sepanjang tahun 2026. Rupiah bahkan telah menembus level psikologis baru di atas Rp18.000 per dolar AS.
Kondisi ini diperparah oleh meluasnya tekanan ke pasar surat utang negara. Data menunjukkan investor asing telah memangkas kepemilikan obligasi pemerintah Indonesia hingga 86 triliun rupiah (sekitar 9 persen) sejak kuartal ketiga tahun lalu. Penurunan ini terus terjadi meskipun Bank Indonesia (BI) dilaporkan telah berulang kali melakukan intervensi di pasar valuta asing dan obligasi untuk menstabilkan situasi.
"Faktor utama di balik posisi short (jual) aset Indonesia adalah prospek bearish terhadap rupiah. Para investor masih sangat khawatir mengenai ketidakseimbangan makroekonomi serta kredibilitas kebijakan, terutama dari sisi pengelolaan fiskal," ungkap Gary Tan, Manajer Portofolio di Allspring Global Investments, lembaga yang mengelola dana kelolaan global sekitar US$624 miliar.
Di sisi lain, pasar juga diramaikan oleh rumor ketidakpastian pos kementerian keuangan menyusul isu perombakan struktur fiskal, serta tantangan tata kelola dalam implementasi program makan gratis yang beberapa waktu terakhir sempat didera isu pelaksanaan di lapangan.
Respons Pemerintah dan Prospek Jangka Panjang
Presiden Prabowo Subianto dan jajaran pemerintahannya berulang kali menegaskan bahwa kebijakan yang lebih agresif ini sangat diperlukan agar Indonesia bisa segera keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle-income trap), menaikkan nilai tambah industri, serta memaksimalkan posisi strategisnya dalam rantai pasok global.
"Pasar belum sepenuhnya memahami arah kebijakan saya," tegas Presiden Prabowo dalam sebuah sesi wawancara dengan Bloomberg beberapa waktu lalu.
Otoritas terkait juga telah merespons volatilitas pasar dengan memperketat aturan keterbukaan informasi dan mengusulkan perubahan aturan porsi saham publik (free-float). Kendati demikian, langkah tersebut dinilai belum cukup kuat untuk membendung arus keluar modal asing secara instan.
Meskipun saat ini pasar keuangan sedang mengalami koreksi besar-besaran, sebagian besar analis menilai bahwa fundamental ekonomi jangka panjang Indonesia tidak sepenuhnya rusak. Ekonomi nasional dinilai masih mampu tumbuh di kisaran di atas 5 persen, rasio utang pemerintah relatif aman, dan posisi Indonesia sebagai produsen nikel terbesar di dunia tetap menjadi daya tarik kritis di mata global.
Kini, tantangan terbesar bagi pemerintahan baru adalah bagaimana mengembalikan predibilitas dan kepastian regulasi di mata dunia. Para pengamat menekankan bahwa demi menyukseskan visi pembangunan besarnya, pemerintah bagaimanapun tetap membutuhkan pasar global sebagai mitra strategis pembiayaan.


Pilih Karakter & Nama