Skor IQ AI Terbaru 2026 'Grok Tembus Rekor IQ Manusia Kalahkan GPT-4!


Persaingan teknologi kecerdasan buatan (AI) kini tidak hanya soal siapa yang paling populer, tetapi juga siapa yang dianggap paling “cerdas”. Selama ini banyak orang mengira ChatGPT menjadi model AI dengan kemampuan tertinggi. Namun laporan terbaru justru menunjukkan hasil berbeda.

Berdasarkan pengujian IQ AI terbaru yang dilakukan oleh organisasi pemantau AI, Tracking AI, model buatan xAI milik Elon Musk yaitu Grok disebut berhasil meraih skor IQ tertinggi dibandingkan model AI lainnya.

Pengujian tersebut melibatkan sekitar 26 model AI dari berbagai perusahaan teknologi besar dunia. Tes dilakukan menggunakan metode yang mengadaptasi standar tes IQ Mensa untuk mengukur kemampuan logika, analisis, pola, dan pemecahan masalah dari masing-masing model AI.

Hasilnya cukup mengejutkan. Grok berhasil mencatat skor IQ sekitar 145, mengungguli beberapa model AI populer lain seperti ChatGPT, Gemini, Claude, hingga DeepSeek. Dengan skor tersebut, Grok bahkan masuk kategori “genius level” dalam standar pengukuran IQ manusia.

Sementara itu, ChatGPT tetap berada di papan atas dan menunjukkan performa yang sangat kompetitif, terutama dalam kemampuan bahasa, penalaran, hingga kreativitas. Namun dalam pengujian IQ berbasis logika tertentu, Grok dinilai sedikit lebih unggul.

Laporan ini juga menunjukkan perkembangan AI yang sangat cepat dalam beberapa tahun terakhir. Model-model AI generasi terbaru kini bukan hanya mampu menjawab pertanyaan sederhana, tetapi juga dapat melakukan analisis kompleks, memahami konteks panjang, hingga membantu pekerjaan teknis dan kreatif.

Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa skor IQ bukan satu-satunya ukuran untuk menentukan kualitas AI. Setiap model memiliki keunggulan berbeda tergantung kebutuhan pengguna. Ada AI yang unggul dalam pemrograman, ada yang lebih kuat di percakapan natural, dan ada pula yang lebih efektif untuk riset atau produktivitas.

Di sisi lain, perkembangan AI yang semakin pesat juga memunculkan persaingan baru antara perusahaan teknologi besar seperti OpenAI, Google, xAI, Anthropic, dan Meta. Mereka terus berlomba menghadirkan model AI yang lebih pintar, cepat, dan efisien.

Dengan kemampuan AI yang terus meningkat, banyak pihak memprediksi teknologi ini akan semakin mendominasi berbagai sektor mulai dari pendidikan, bisnis, kesehatan, hingga industri kreatif dalam beberapa tahun mendatang.


Tes Mensa Norwegia yang digunakan dalam pengujian ini terdiri dari 35 teka-teki pola visual yang dirancang untuk mengukur kemampuan logika dan penalaran. Dalam pelaksanaannya, terdapat perbedaan metode antara model AI berbasis teks dan model multimodal atau vision.

Untuk AI non-vision, soal terlebih dahulu diubah menjadi deskripsi verbal agar dapat dipahami model berbasis teks. Sementara itu, model vision mengerjakan soal menggunakan gambar asli tanpa modifikasi, sehingga dapat langsung menganalisis pola visual yang diberikan.

Tracking AI juga menerapkan aturan khusus selama pengujian berlangsung. Jika sebuah model AI menolak menjawab atau gagal memberikan respons, pertanyaan yang sama akan diulang hingga maksimal 10 kali. Jawaban terakhir yang diberikan kemudian digunakan sebagai hasil penilaian akhir.

Meski hasil tes ini ramai diperbincangkan, Tracking AI menegaskan bahwa skor IQ bukan tolok ukur mutlak kecerdasan AI secara keseluruhan. Pasalnya, tes IQ hanya mengukur satu aspek tertentu, yakni kemampuan penalaran pola dan logika visual, bukan kemampuan lengkap seperti kreativitas, pemahaman bahasa, kemampuan coding, hingga analisis kontekstual.

Data tersebut dihimpun KompasTekno dari laporan Visual Capitalist yang membahas perkembangan dan perbandingan kecerdasan model AI terbaru dunia.

+

Pilih Karakter & Nama

🇮🇩 Indonesia
🇺🇸 English
🇲🇾 Melayu
🇨🇳 Chinese
🇯🇵 Japanese
🇸🇦 Arabic
🇰🇷 Korea